Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Sejarah Narkoba

Sejarah Narkoba

Sejarah Narkoba - Narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain "narkoba", istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif.

Semua istilah ini, baik "narkoba" ataupun "napza", mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya. Menurut pakar kesehatan, narkoba sebenarnya adalah senyawa-senyawa psikotropika yang biasa dipakai untuk membius pasien saat hendak dioperasi atau obat-obatan untuk penyakit tertentu. Namun kini persepsi itu disalahartikan akibat pemakaian di luar peruntukan dan dosis yang semestinya.Pada saat ini (2015) terdapat 35 jenis narkoba yang dikonsumsi pengguna narkoba di Indonesia dari yang paling murah hingga yang mahal seperti LSD. Di dunia terdapat 354 jenis narkoba. Pemasok Narkoba di Indonesia diketahui berasal dari Afrika Barat, Iran, Eropa, dan yang paling aktif adalah pemasok dari Indo China.
Sejarah Narkoba
Sejarah Narkoba

Sejarah Narkoba
Narkoba jika ditarik dari sejarah penggunaannya sebenarnya merupakan satu jenis obat penghilang rasa sakit yang sudah dikenal sejak 50.000 tahun yang lalu terbuat dari sari bunga opium (Papauor Samnifertium) yang diketemukan sekitar 2000 SM oleh bangsa Sumeria digunakan untuk membantu orang-orang yang sulit tidur dan meredakan rasa sakit.

Dalam perkembangannya, pada tahun 1805, seorang dokter berkebangsaan Jerman bernama Friedrich Wilhelm menemukan senyawa opium amaniak yang kemudian diberi nama morfin (morphine) dimana nama morphine sendiri diambil dari nama dewa Yunani yaitu Morphius yang berarti dewa mimpi. Morfin diperkenalkan sebagai pengganti dari opium yang merupakan candu mentah. Di India dan Persia, Candu di perkenalkan oleh Alexander The Great pada 330 SM, dimana pada waktu iu candu digunakan sebagai tambahan bumbu pada masakan yang bertujuan untuk relaksasi tubuh.

Pada tahun 1898 narkotika di produksi secara massal oleh produsen obat ternama Jerman, Bayer. Pabrik itu memproduksi obat untuk penghilang rasa sakit dan kemudian memberi nama obat itu dengan sebutan heroin. Pada tahun itulah narkotika kemudian digunakan secara resmi dalam dunia medis untuk pengobatan penghilang rasa sakit.

Ditemukan dan dikembangnya narkotika tidak lain dan tidak bukan pada dasarnya adalah untuk kepentingan medis (pengobatan), namun seiring berkembangnya hubungan internasional yang menyangkut di dalamnya dunia politik, berkembangnya narkotika tidak lepas menjadi sasaran politik orang-orang yang ingin meraup keuntungan, menjadikan narkoba sebagai lahan bisnis yang menguntungkan dengan menambah zat-zat adiktif yang berbahaya yang tentu dapat mengancam kehidupan masyarakat, terihat jelas dengan menambahkan zat adiktif menandakan awal mulanya penyalahgunaan narkoba yang tadinya dimanfaatkan sebagai penghilang rasa sakit kemudian menjadi obat yang membuat seseorang mengalami ketergantungan. Penambahan zat adiktif berbahaya dapat memicu sesorang menjadi berhalusinasi semakin tinggi dan kecanduan yang dapat merusak jaringan syaraf dan organ-organ tubuh seseorang sehingga pada akhirnya berimbas pada kematian.

Pada tahun 1906, dalam mengatasi penyalahgunaan narkoba, Amerika turut serta dalam membuat undang-undang yang meminta farmasi memberikan label yang jelas untuk setiap kandungan dari obat yang di produksi. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan opium yang ada dalam obat yang di produksi tersebut. Pada tahun 1914, dibuatlah peraturan yang mengharuskan peraturan pemakai dan penjual narkoba wajib untuk membayar pajak, melarang memberikan narkotika kepada pecandu yang tidak ingin sembuh serta menahan paramedis dan menutup tempat rehabilitasi. Pada tahun 1923, Amerika juga melarang penjualan bentuk narkotika terutama heroin. Dilarangnya penjualan narkotika inilah yang menjadi awal penjulan/perdagangan gelap terhadap narkotika yang berdiri di Chinatown, New York. Perdagangan gelap narkotika seiring berkembangnya pasar global maka pada akhirnya menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuklah ke Indonesia.

Di Indonesia, pada awalnya narkoba merupakan permasalahan kecil dan pemerintah Orba pada saat itu memandang bahwa masalah narkoba tidak akan berkembang karena melihat dasar Indonesia yaitu Pancasila dan Agamais. Pandangan pemerintah itu telah membuat pemerintah dan seluruh bangsa Indonesia lengah terhadap ancaman bahaya penyalahgunaan narkoba.

Dalam mengatasi permasalahan narkoba yang semakin menunjukkan intensitasnya, Pemerintah Indonesia dengan Dewan Perwakilanan Rakyat mengesahkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Berdasarkan kedua Undang-undang tersebut, Pemerintah membentuk Badan Koordinasi Narkotika Nasional (BKNN), dengan Keputusan Presiden Nomor 116 Tahun 1999. BKNN adalah suatu Badan Koordinasi penanggulangan narkoba yang kemudian berubah nama menjadi Badan Narkotika Nasional. Untuk propinsi dan kabupaten dalam menangani permasalahan narkoba, maka dibentuklah Badan Narkotika Propinsi dan Badan Narkotika Kabupaten. Penyuluhan-penyuluhan dan sosialisasi dari badan narkotika kiat digencarkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan bahaya penyalahgunaan narkoba yang mengancam kehidupan orang banyak.


Karakteristik, Konsep, Jenis dan Fungsi Sejarah

Karakteristik, Konsep, Jenis dan Fungsi Sejarah

Karakteristik, Konsep, Jenis dan Fungsi Sejarah - Sejarah (bahasa Yunani: ἱστορία, historia, artinya "mengusut, pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian") adalah kajian tentang masa lampau, khususnya bagaimana kaitannya dengan manusia. Dalam bahasa Indonesia sejarah babad, hikayat, riwayat, atautambo dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah. Ini adalah istilah umum yang berhubungan dengan peristiwa masa lalu serta penemuan, koleksi, organisasi, dan penyajian informasi mengenai peristiwa ini. Istilah ini mencakup kosmik, geologi, dan sejarah makhluk hidup, tetapi seringkali secara umum diartikan sebagai sejarah manusia. Para sarjana yang menulis tentang sejarah disebut ahli sejarah atau sejarawan. Peristiwa yang terjadi sebelum catatan tertulis disebut Prasejarah.
Karakteristik, Konsep, Jenis dan Fungsi Sejarah
Karakteristik, Konsep, Jenis dan Fungsi Sejarah


Karakteristik Sejarah

1. Hubungan ilmu sejarah dan ilmu-ilmu sosial
Sejarah sebagai ilmu, tentunyamempunyai keunikan tersendiri sehingga berbeda dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Konsep dalam ilmu sejarah meliputi : waktu (time), ruang (space), perubahan (change), aktivitas manusia (man), kesinambungan (continuity) . Walaupun berbeda dengan disiplin ilmu social lainnya tetapi dalam perkembangannya peran dari ilmu –ilmu social dalam penulisan sejarah sangat di erlukan para sejarawan banyak meminjam teori atau konsep ilmu sosial, diantaranya:


a. Geografi : terkait erat dengan latar geografis , dimana peristiwa sejarah itu terjadi dengan kata lain geografi merupakan panggung sejarah.
b. Politik : membantu menyelaraskan data politik dan kejadian yang mempengaruhi pengalamansejarah manusia.
c. Sosiologi : membantu menjelaskan aktivitas kolektif manusia di masa lampau , peristiwa sejarah yang merupakan hasil dari interaksi antar manusia sangat membutuhkan konsep-konsep sosiologi.
d. Antropologi : dapat membantu sejarah dalam mengkaji pola-pola perilaku , keyakinan , kebudayaan dalam suatu masyarakat.
e. Arkeologi : membantu sejarah dalam menemukan dan menganalisis sumber-sumber sejarah .
f. Ekonomi : usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dimasa lampau dapat dijelaskan lebih rinci dengan meminjam konsep dari ilmu ekonomi.
g. Psikologi : banyak membantu sejarah dalam menjelaskan perilaku para tokoh actor pelaku sejarah.


2. Karakter sejarah
Unsur terpenting dari sejarah adalah kejadian masa lalu, maka yang menjadi konsep dasar sejarah adalah waktu (time), ruang (space), kegiatan manusia (human activities), perubahan (change) dan kesinambungan (continuity). Adapun karakteristik dari mata pelajaran sejarah diantaranya adalah: 

a. Sejarah terkait dengan peristiwa masa lampau : materi pokok pembelajaran sejarah adalah produk masa kini dalam bentuk rekontruksi peristiwa peristiwa masa lampau berdasarkan sumber-sumber yang ada .
b. Bersifat kronologi : dalam mengorganisasikan materi pembelajaran harus berdasarkan urutan waktu kejadian .


Dalam sejarah terdapat 3 unsur pokok yaitu : manusia, ruang dan waktu . untuk itu sejarah erat hubungannya dengan jawaban dari pertanyan-pertanyan what (apa), who (siapa) , when (kapan) , where (dimana) , why (mengapa), dan how (bagaimana) .Roeslan Abdul Ghani mengatakan bahwa ilmu sejarah ibarat penglihatan terhadap tiga dimensi, yaitu pertama, penglihatan ke masa silam, kedua ke masa sekarang dan ketiga ke masa depan (to study history is to study the past to built the future). Presfektif waktu dalam sejarah adalah waktu lampau yang terus berkesinambungan, dimana waktu dilihat sebagai sebuah garis linier (lurus) . dengan demikian sejarah di lihat sebagai sebuah sebuah proses yang terus berjalan dari masa lampau – masa kini - masa yang akan datang. Sejarah merupakan prinsip sebab akibat antara fakta yang satu dengan yang lainnya, antara peristiwa yang satu dengan lainnya merupakan sebuah rangkaian yang tidak terpisah-pisah, peristiwa sejarah yang satu di akibatkan atau disebabkan oleh peristiwa sejarah yang lain.

Konsep-konsep Dasar Sejarah 

1. Periodisasi sejarah
Sejarah merupakan sebuah proses perjalanan waktu yang sangat luas dan panjang areanya . dalam rentang waktu itulah sejarah melewati ratusan bahkan ribuan tahun dengan melibatkan perubahan dalam kehidupan manusia yang sangat banyak . mengkaji semua peristiwa sejarah yang luas dan panjang secara rinci sangatlah susah, untuk itulah maka digunakan pemisahan yang biasanya didasarkan pada momentum tertentu. Suatu momentum yang dapat memberikan petunjuk adanya karakteristik dari suatu kurun waktu yang satu berbeda dengan kurun waktu lainnya . hal itulah yang dinamakan dengan periodisasi sejarah. Contoh periodisasi sejarah dalam masyarakat tradisional biasanya di dasarkan pada kurun waktu kekuasaan raja
Secara umum periodisasi sejarah Indonesia dikelompokan menjadi beberapa zaman yaitu: 
  • ….. – 400 Zaman Prasejarah Indonesia
  • 400 – 1500 Zaman Pengaruh Hindu-Budha dan Pertumbuhan Islam
  • 1500 – 1670 Zaman Kerajaan Islam dan Mulai masuknya Pengaruh Barat serta Perluasan Pengaruh VOC
  • 1670 – 1800 Masa penjajahan oleh VOC
  • 1800 – 1811 Masa Pemerintahan Herman Willem Daendels
  • 1811 – 1816 Masa Pemerintahan Thomas Stamford Raffles (Inggris)
Tujuan di buatnya periodisasi bukan berarti memutuskan peristiwa yang satu dengan yang lainnya , karena dalam sejarah aspek kesinambungan dan kontinuitas merupakan suatu hal yang pokok 

2. Kronologi sejarah
Karena kompleksnya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia pada setiap kurun waktu , maka peristiwa –peristiawa tersebut terlebih dahulu harus dikelompokan berdasarkan bentuk atau jenis tertentu (periodisasi) . setelah itu barulah disusun secara kronologis (berdasarkan urutan waktu kejadian). Tujuan dibuatnya kronologi dalam sejarah adalah agar penyusunan berbagai peristiwa sejarah dalam periodisasi tertentu tidak tumpangtindih atau rancu dengan metode lainnya. Kronologi sejarah berarti sesuai dengan urutan waktu kejadian dari peristiwa sejarah tersebut, sehingga tidak berlangsung secara loncat-loncat. Walaupun demikian susunan kejadian berdasarkan urutan waktu tersebut harus tetap berkisinambungan dan menunnjukan kuasalitas (sebab-akibat). Penyusunan peristiwa berdasarkan urutan waktu tanpa adanya hubungan sebab akibat dinamakan kronik , bukan sebagai sejarah.

Jenis-jenis Sejarah 

Berdasarkan subyeknya yaitu :
a) sejarah konvensional (sejarah lama/old history)
b) sejarah baru (new history)

Dalam sejarah konvensional subyek yang menjadi kajian adalah kisah perkembangan kerajaan, negara, pemimpin, raja (kaisar), para tokoh penting, dan aspek politik yang disajikan secara kronologis. Dengan demikian sejarah konvensional lebih mengutamakan unsure kejadian , peristiwa, kisah serta urutan kejadian. Dalam sejarah baru, subyek yang menjadi kajian lebih luas meliputi berbagai golongan masyarakat (di luar istana dan birokrasi pemerintahan ). Dalam penulisannya sering menggunakan berbegai teori dari disiplin ilmu social yang lain. Sejarah baru lebih berorientasi kepada masalah , bukan pada peristiwa dan urutan kejadian. Dengan demikian sejarah baru lebih bersifat tematis seperti sejarah kebudayaan , sejarah social, sejarah local, sejarah politik dll.

Fungsi Sejarah
1. Sejarah sebagai pelajaran.
Pengalaman adalah guru yang paling baik, manusia banyak belajar dari pengalaman hidupnya baik pengalaman dirinya maupun dari pengalaman orang lain atau generasi sebelumnya. Pengalaman merupakan peristiwa masa lalu , dan dari peristiwa itulah kita dapat mengambil hikmahnya (pelajaran), sebagai contoh kemajemukan masyarakat Indonesia pada masa lalu di manfaatkan oleh penjajah untuk melakukan devide et impera, dan berhasil, akibatnya bangsa Indonesia di jajah sampai ratusan tahun lamanya. Peristiwa masa lalu tersebut memberikan pelajaran kepada generasi sekarang, sehingga generasi sekarang harus mampu memandang kemajemukan bukan sebagai hal negatif, tetapi harus di sikapi secara positif.

2. Sejarah sebagai inspirasi.
Berbagai peristiwa masa lalu dapat memberikan inspirasi (ilham) pada generasi berikutnya. Masa sekarang dan yang akan datang tidak akan terlepas dari masa lalu karena waktu merupakan sebuah garis linier, tidak ada suatu peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, tidak ada peristiwa masa kini yang terputus dari peristiwa masa lampau. Dengan memahami masa lalu manusia dapat menarik benang merahnya dengan masa kini, contoh sesorang menjadi anggota TNI setelah terinspirasi oleh kepahlawanan Jendral Sudirman.

3. Sejarah sebagai rekreasi.
Setiap sejarah selalu bersamaan dengan kebudayaan nya , sehingga ketika membicarakan sejarah sering dikaitkan dengan benda peninggalan masa lampau seperti candi, keraton, patung dan benda budaya lainnya. Orang mengunjungi keraton, candi atau museum sebetulnya orang tersebut telah menjadikan sejarah dengan fungsi (kegunan) rekreasi(hiburan). Banyak buku-buku sejarah yang ditulis, termasuk di dalamnya biografi ataupun auto biografi , semua itu merupakan sejarah sebagai kisah . ketika orang membaca kemudian menjadi senang dan tertarik karena tulisan dan gaya bahasanya yang komunikatif . sehingga pembaca dapat berimajinasi dengan isi bacaan buku-buku sejarah tersebut , maka sejarah mempunyai guna rekreatif (hiburan ) seperti layaknya orang membaca sebuah buku novel 

Dasar Penelitian Sejarah

1. Metode penelitian sejarah.
a. Heuristik: berasal dari bahasa yunani, heursken (menemukan), dalam penelitian sejarah, heuristic berarti langkah-langkah untuk mencari dan mengumpulkan berbagai sumber sejarah. Untuk mendapatkan sumber tersebut dapat dilakukan dengan cara mencari dokumen , mengunjungi situs sejarah, mengujungi museum dan perpustakaan, wawancara pelaku atau saksi sejarah.
b. Kritik: berbagai sumber sejarah yang telah dikumpulkan belum tentu semuanya dapat diterima, langkah berikutnya adalah menyeleksi atau menguji kebenaran dari sumber-sumber tesebut, langkah itu dinamakan kritik. Kritik terbagi atas kritik intern dan ekstern. Kritik ekstern (kritik terhadap keaslian sumber sejarah )diantaranya dapat dilakukan dengan berdasarkan kepada : tipologi (menentukan usia berdasarkan type dari benda budaya), stratifikasi (menentukan umur relative suatu benda berdasarkan pada lapisan tanah dimana benda budaya tersebut ditemukan ), kimiawi (menentukan ketuaan benda berdasarkan pada unsure kimia yang terkandung). Kritik intern adalah langkah penyeleksian terhadap isi (materi) dari sumber sejarah (seperti : isi prasasti , isi naskah / dokumen , dll) atau langkah terhadap validitas isi (materi) sumber sejarah. Misalnya sebuah kitab kuno baru dapat di percaya kebenarannya apabila ada keterangan dari prasasti , catatan sejarah yang mendukungnya. Sumber sejarah yang telah terseleksi melalui kritik itulah di sebut dengan fakta .
c. Interpretasi : berbagai fakta sejarah yang telah didapatkan kemudian dirangkai sehingga mempunyai bentuk dan setruktur untuk direkrontruksi. Dalam proses inilah di perlukan interpretasi, yaitu penafsiran terhadap fakta-fakta sejarah. Dalam menafsirkan suatu faklta mutlak diperlukan landasan interpretasi agar tidak terjadi penafsiran yang tanpa dasar. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan dalam menafsirkan suatu fakta di antaranya karena adanya beberapa perbedaan seperti : idiologi, kepentingan, tujuan, penulisan dan sudut pandang
d. Historiografi : merupakan langkah terakhir yaitu proses penulisan dan penyusunan kisah masa lampau yang direkrontruksi berdasarkan pada fakta yang telah diberi penafsiran peristiwa sejarah yang dikisahkan melalui historiografi akan sangat di pengaruhi oleh subyektifitas si penulis dalam merekontruksinya.

Dalam penulisan sejarah perlu dipertimbangkan struktur dan gaya bahasanya sehingga orang tertarik untuk membacanya . dengan demikian penulisan sejarah mempunyai unsure yang sama dengan penulisan sastra yaitu sama-sama menyajikan suatu kisah , bedanya dalam sejarah.


2. Pengertian sumber dan fakta sejarah.
Dalam penelitian sejarah, langkah pertama yang harus di lakukan adalah mengumpulkan sumber-sumber berdasarkan bentuknya, sumber sejarah terbagai menjadi:
a. Sumber tertulis (dokumen) meliputi: prasasti, kronik, babad, naskah, arsip, Koran.
b. Sumber benda (artefak) meliputi: fosil, prasasti, candi, patung, stupa, nisan , senjata, bangunan (keratin, mesjid), peralatan hidup.
c. Sumber lisan yaitu : keterangan langsung dari saksi atau pelaku sejarah.
d. Sumber rekaman merupakan hasil rekaman dalam bentuk audio visual seperti : kaset, video compactdisk.

Berdasarkan sifatnya sumber-sumber sejarah terbagi menjadi :
a. Sumber primer : sumber-sumber sejarah yang asli dan berasal dari jamannya seperti prasati, kronik, piagam, bangunan (candi, keratin, masjid), nisan
b. Sumber sekunder : sumbersejarah yang berasal dari sumber kepustakaan kuno (babad, naskah, karya sastra) atau berupa sumber tiruan dari benda aslinya misalnya prasasti tiruan (tinulad), terjemahan kitab kuno.
c. Sumber tersier: merupakan sumber yang berupa buku-buku sejarah yang telah disusun di mana si pengarang tidak melakukan penelitian langsung. Tetapi berdasarkan kepada hasil penelitian ahli sejarah (para sejarawan). 

Sejarah tidak dapat dipisahkan dari fakta, sejarah tanpa fakta hanya akan menjadi sebuah dongeng. Fakta adalah sumber sejarah yang telah terseleksi melalui proses kritik . fakta kemudian di rekontruksi dan dijadikan dasar untuk mengisahkan sejarah. Fakta sejarah mempunyai beberapa bentuk yaitu :
a. Artifact (fakta yang berupa benda konkrit ) :fosil , patung , candi dll
b. Manifact (fakta yang bersifat abstrak ) : keyakinan dan kepercayaan.
c. Sosio-fact :fakta yang berdimensi social seperti jaringan interaksi antar manusia.
Fakta sejarah ada yang bersifat lunak artinya masih potensial untuk diperdebatkan, misalnya mengenai letak ibukota kerajaan sriwijaya, ibukota kerajaan tarumanegara, kerajaan hindu di jawa barat, dll yang sampai sekarang masih banyak yang beda pendapat. Sedangkan fakta sejarah yang bersifat keras adalah fakta yang telah menjuadi consensus (kesepakatan) umum, misalnya mengenai Soekarno-Hatta sebagai tokoh proklamator, semua berpendapat sama .

Jejak Masa Lampau

1. Peninggalan sejarah.
Peninggalan sejarah merupakan wujud benda-benda peninggalan kebudayaan manusia pada masa lampau. Peninggalan sejarah tersebut diantaranya bangunan seperti : keraton, punden/berundak, candi, masjid, makam, nisan, prasasti dll.peninggalan lainnya dalam bentuk perhiasan baik yang terbuat dari batu, perak, emas, ataupun lainnya. Peninggalan dalam bentuk peralatan hidup dan perhiasan , pada saat sekarang dapat kita lihat di beberapa museum.

2.Monumen peringatan peristiwa sejarah.
Monumen peringatan biasanya dalam bentuk biasanya dalam bentuk sebuah bangunan tugu, tujuanya untuk menganang suatu peristiwa sejarah yang terjadi di daerah tersebut, selain itu pembangunan monumen tersebut dimaksudkan untuk menyampaikan pesan dan nilai moral dari suatu peristiwa sejarah kepada generasi berikutnya contoh dari monumen antara lain monument pancasila sakti , monumen nasional , monumen yogja kembali.

Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu dan Seni

Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu dan Seni

Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu dan Seni - Dalam masyarakat awam sejarah sering di identikkan dengan nama tokoh ,candi , tanggal , tahun dan tempat terjadinya peristiwa . kata sejarah berasal dari bahasa arab yaitu syajaratun , artinya pohon . sebuah pohon terdiri dari akar, dahan, ranting dan daun sehingga sejarah diartikan sebagai asal usul , riwayat dan silsilah yang menyerupai sebuah pohon dalam bahasa arab ilmu yang mempelajari kisah masa lalu di kenal dengan istilah Tarikh. Di Eropa , sejarah dikenal dengan istilah history (Inggris) , histoire (Perancis) , storia (Italia) , semuanyan berasal dari bahasa yunani yaitu historia yang artinya orang pandai sementara dalam bahasa belanda sejarah disebut dengan geschiedenis (terjadi), dalam bahasa jerman disebut geschichate (sesuatu yang terjadi) dengan demikian sejarah dapat di artikan sebagai kejadian masa lampau dari kehidupan manusia. Akan tetapi tidak semua kejadian masa lampau dapat masuk kedalam ruang lingkup sejarah, hanya kejadian-kejadian yang mempunyai pengaruh besar pada masanya dan masa-masa berikutnya. 
Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu dan Seni
Sejarah Sebagai Peristiwa, Kisah, Ilmu dan Seni

1. Sejarah sebagai peristiwa
Sejarah sebagai peristiwa diartikan sebagai peristiwa masa lampau manusia yang benar-benar terjadi (histoire realita), sehingga hanya terjadi satu kali saja , yaitu pada saat kejadiannya sedang berlangsung , sehingga tidak mungkin terjadi lagi pada masa-masa selanjutnya . Setiap peristiwa yang terjadi akan berbeda dengan peristiwa sebelumnya, kalaupun peristiwa nya sejenis , tetapi waktu dan tempat serta pelaku (actor) sejarahnya berbeda . sering juga ada istilah sejarah berulang , sebetulnya yang berulang bukan peristiwanya tetapi gejala dari peristiwa itu yang berulang .


Ciri utama dari Sejarah sebagai peristiwa adalah sebagai berikut.

• Abadi,
karena peristiwa tersebut tidak berubah-ubah. Sebuah peristiwa yang sudah terjadi dan tidak akan berubah ataupun diubah. Oleh karena itulah maka peristiwa tersebut atas tetap dikenang sepanjang masa.

• Unik,
karena peristiwa itu hanya terjadi satu kali. Peristiwa tersebut tidak dapat diulang jika ingin diulang tidak akan sama persis.

• Penting,
karena peristiwa yang terjadi tersebut mempunyai arti bagi seseorang bahkan dapat pula menentukan kehidupan orang banyak.

Tidak semua peristiwa dapat dikatakan sebagai sejarah. Sebuah kenyataan sejarah dapat diketahui melalui bukti-bukti sejarah yang dapat menjadi saksi terhadap peristiwa yang telah terjadi.

Agar sebuah peristiwa dapat dikatakan sebagai sejarah maka harus memenuhi ciri-ciri berikut ini.
  • Peristiwa tersebut berhubungan dengan kehidupan manusia baik sebagai individu maupun kelompok.
  • Memperhatikan dimensi ruang dan waktu (kapan dan dimana)
  • Peristiwa tersebut dapat dikaitkan dengan peristiwa yang lain
  • Adanya hubungan sebab-akibat dari peristiwa tersebut.
  • Adanya hubungan sebab akibat baik karena faktor dari dalam maupun dari luar peristiwa tersebut. Penyebab adalah hal yang menyebabkan peristiwa tersebut terjadi.
  • Peristiwa sejarah yang terjadi merupakan sebuah perubahan dalam kehidupan.
Hal ini disebabkan karena sejarah pada hakekatnya adalah sebuah perubahan dalam kehidupan manusia. Selain itu, sejarah mempelajari aktivitas manusia dalam konteks waktu. Perubahan tersebut dapat meliputi berbagai aspek kehidupan seperti politik, sosial, ekonomi, dan budaya.

Peristiwa adalah kenyataan yang bersifat absolut atau mutlak dan objektif. Sejarah sebagai peristiwa merupakan suatu kenyataan yang objektif artinya kenyataan yang benar-benar ada dan terjadi dalam kehidupan masyarakat manusia. Kenyataan ini dapat dilihat dari fakta-fakta sejarahnya. Peristiwa-peristiwa sejarah tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek kehidupan manusia seperti peristiwa politik, ekonomi, dan sosial.

2. Sejarah sebagai kisah
Sejarah sebagai kisah (histoire reite) , dapat diartikan sebagai rekontruksi peristiwa masa lampau oleh manusia masa kini melalui berbagai fakta dan fenafsiran . sejarah sebagai kisah dapat kita baca dalam berbagai buku sejarah , majalah atau Koran, atau pada saat guru menjelaskan Sejarah sebagai kisah sifatnya akan subjektif karena tergantung pada interpretasi atau penafsiran yang dilakukan oleh penulis sejarah. Subjektivitas terjadi lebih banyak diakibatkan oleh faktor-faktor kepribadian si penulis atau penutur cerita.

Sejarah sebagai kisah dapat berupa narasi yang disusun berdasarkan memori, kesan, atau tafsiran manusia terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi pada waktu lampau. Sejarah sebagai kisah dapat diulang, ditulis oleh siapapun dan kapan saja. Untuk mewujudkan sejarah sebagai kisah diperlukan fakta-fakta yang diperoleh atau dirumuskan dari sumber sejarah. Tetapi tidak semua fakta sejarah dapat diangkat dan dikisahkan hanya peristiwa penting yang dapat dikisahkan.

Faktor yang harus diperhatikan dan mempengaruhi dalam melihat sejarah sebagai kisah, adalah sebagai berikut.
  • Kepentingan yang diperjuangkannya. Faktor kepentingan dapat terlihat dalam cara seseorang menuliskan dan menceritakan kisah/peristiwa sejarah. Kepentingan tersebut dapat berupa kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok.
  • Kelompok sosial dimana dia berada. Dalam hal ini adalah lingkungan tempat ia bergaul, berhubungan dengan sesama pekerjaannya atau statusnya. Darimana asal pencerita sejarah tersebut juga mempengaruhi cara penulisan sejarah.
  • Perbendaharaan pengetahuan yang dimilikinya. Pengetahuan dan latar belakang kemampuan ilmu yang dimiliki pencerita sejarah juga mempengaruhi kisah sejarah yang disampaikan.
  • Hal tersebut dapat terlihat dari kelengkapan kisah yang akan disampaikan, gaya penyampaian, dan interpretasinya atas peristiwa sejarah yang akan dikisahkannya.
  • Kemampuan bahasa yang dimilikinya. Pengaruh kemampuan bahasa seorang penutur/pencerita sejarah sebagai kisah terlihat dari hasil rekonstruksi penuturan kisah sejarah. Hal ini akan sangat bergantung pada kemampuan bahasa si penutur kisah sejarah.

3. Sejarah sebagai ilmu & sejarah sebagai seni
Sejarah adalah peristiwa masa lampau manusia , maka ilmu sejarah adalah ilmu yang mempelajari peristiwa masa lampau manusia. Sejarah sebagai ilmu sama dengan ilmu-ilmu lainnya . sejarah sebagai ilmu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  1. empiris : diperoleh melalui penemuan dan pengamatan yang dilakukan berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada
  2. mempunyai obyek : sama seperti disiplin ilmu lain , sejarah mempunyai obyek ,
  3. obyek material : manusia
  4. obyek formal : aktivitas manusia yang pernah terjadi dalam suatu rentang waktu di masa lampau
  5. teori : kaidah-kaidah pokok sebagai suatu ilmu , seperti teori challenge and respons, teori masuknya hindu .
  6. metode : sejarah mempunyai cara tersendiri dalam penelitiannya maupun penulisanya. Sejarah sebagai seni , yang dimaksud diantaranya ketika seorang sejarawan menuliskan kembali peristiwa masa lampau itu . dalam penulisan sejarah (historiografi ) seorng sejarawan memerlukan beberapa pemahaman seperti, layaknya seorang seniman , sebagai seni adalah sejarah yang disajikan secara naratif dan imajinatif dengan menonjolkan unsur-unsur cerita , kisah atau peran tetapi tetap berpijak pada fakta –fakta yang ada .

Sejarah Sebagai Ilmu

Sejarah Sebagai Ilmu

Sejarah Sebagai Ilmu - sSjarah merupakan ilmu yang memiliki fungsi besar dalam meneliti dan menyelidiki kejadian-kejadian apa saja atau peristiwa apa saja yang dialami oleh manusia serta masyarakat pada masa lampau. Dalam melakukan penelitian sejarah, penguasaan metode ilmiah sangat diperlukan, tidak bisa asal dalam melakukan penelitian sejarah.

Sejarah Sebagai Ilmu
Sejarah Sebagai Ilmu


A. Pengertian Sejarah Sebagai Ilmu 
Dalam perkembangannya, sejerah mempunyai beberapa fungsi. Diantaranya adalah sejarah sebagai peristiwa, sejarah sebagai seni, dan sejarah sebagai ilmu. Sejarah juga mempunyai peranan dalam perkembangan suatu negara atau daerah. Banyak negara atau daerah yang besar karena menghargai sejarah masa lalunya. 

Salah satunya adalah Indonesia, masyarakat Indonesia selalu mengenang dan menghargai jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan dan mengukir sejarah besar dalam perjalanan negara Republik Indonesia. Hal ini terbukti dengan diperingatinya tanggal-tanggal penting yang berkaitan dengan pejuangan para pahlawan untuk merebut kemerdekaan dari para penjajah. Seperti diadakannya upacara hari Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus, mengibarkan bendera merah-putih bagi setiap masyarakat Indonesia menjelang hari kemerdekaan, diadakannya upacara bendera setiap hari senin di sekolah-sekolah seluruh Indonesia, digunakannya sejarah sebagai salah satu mata pelajaran di lembaga pendidikan di seluruh Indonesia. 

Seiring dengan bekembangnya zaman, berkembang pulalah ilmu pengetahuan dan sains. Pengetahuan sejarah sudah mulai mencangkup kondisi pada jenjang sosial tertentu. 

Pada perkembangan inilah sejarah sebagai ilmu pengetahuan mulai dibahas dan dibuktikan keabsahannya. Hal ini sesuai dengan yang telah diungkapkan oleh Shuderman(2012) “ ilmu sejarah berusaha mencari hukum-hukum yang mengendalikan manusia dan kehidupannya dan juga mencari penyebab timbulnya perubahan-perubahan dalam kehidupan manusia. Sejarah sebagai cabang ilmu pengetahuan hendaknya dibahas dan dibuktikan secara keilmuan (ilmiah)”. Untuk mencari keabsahannya tersebut muncul metode dalam sejarah. Munculnya metode dalam sejarah inilah yang membuat sejarah mempunyai funsi sebagai ilmu. Banyak ahli sejarah yang mendefinisikan sejarah sebagai ilmu, dari berbagai definisi tersebut, diantaranya yang telah diungkapkan oleh Shuderman(2012) yaitu. 
Sejarah sebagai ilmu adalah suatu susunan pengetahuan (a body of Knowledge) tentang peristiwa dan cerita yang terjadi di masyarakat manusia pada masa lampau yang disusun secara sistematis dan metodis berdasarkan asas-asas, prosedur dan metode serta teknik ilmiah yang diakui oleh para pakar sejarah. 

Jadi, definisi sejarah sebagai ilmu sesuai pernyataan dari Shuderman adalah pengetahuan tentang suatu kejadian masa lalu yang disusun secara berurutan dan metode berdasarkan asas,prosedur dan teknik ilmiah yang diakui oleh para sejarawan. 

· Alasan Sejarah Dijadikan Sebagai Ilmu 
Suatu hal dapat dikatakan sebagai ilmu apabila hal tersebut memenuhi syarat umum yaitu objek, tujuan, metodelogi dan sistematika. Sesuatu dikatakan memiliki objek, jika ilmu itu memiliki sasaran atau tujuan penelitian. Ilmu yang memiliki tujuan adalah ilmu yang mengantarkan kepada tujuan tertentu seperti biologi, biologi adalah ilmu yang memepelajari tentang mahluk hidup. Itu berarti biologi bertujuan mengajarkan tentang mahluk hidup dan segala aspek-aspeknya .Ilmu yang memiliki metodelogi adalah ilmu yang memiliki cara dalam mengembangkan materi-materi yang dibahas seperti pengalaman dan sebagainya. Sedangkan ilmu yang sistematika adalah ilmu yang secara berurutan atau kronologinya jelas sedang membahas atau mempelajari suatu hal. 

Sedangkan sejarah dikatakan sebagai ilmu, jika memiliki syarat yaitu empiris, memiliki objek, memiliki teori, generalisasi dan memiliki metode. Berikut ini penjabaran dari aspek tersebut : 

Sejarah Itu Empiris 
Sejarah itu empiris mempunyai arti pengalaman, ini sesuai dengan ungkapan Kuntowijoyo (2013:46), “empiris berasal dari kata “Empeiria” Yunani yaitu pengalaman”. Mengapa sejarah itu empiris? Sejarah berasal dari pengalaman yang masih tercatat oleh memori kita. Pengalaman yang tadi telah diamati dituangkan dalam bentuk tulisan. Tulisan-tulisan itulah yang diteliti keabsahannya oleh sejarawan untuk menentukan fakta. Fakta itu ditafsirkan secara berbeda-beda. Jika suatu ilmu alam memiliki objek yang pasti. Sedangkan sejarah menjadikan bukti sebagai objeknya. Letak perbedaan ilmu alam dan sejarah dilihat dari bagaimana mereka mangamati objeknya bukan dari cara kerjanya. 

Jika dalam ilmu alam mereka bisa mengulang-ulang percobaan tentang suatu hal, akan tetapi dalam sejarah, hal itu tidak bisa dilakukan, karena sejarah itu hanya terjadi satu kali karena bersifat pengalaman, seperti pada saat proklamasi. Kejadian ini tidak bisa terjadi kembali dan diulang-ulang untuk diteliti. Hal ini yang menjadi sebab muncul pebedaan pendapat dari para sejarawan dalam mendiskripsikan suatu peristiwa tersebut. Karena kebenaran dalam sejarah hanya ada pada peristiwa itu semdiri. 

Sejarah Memiliki Objek 
Berbeda dari sosiologi, antropologi, dan ilmu sosial lainnya. Sejarah mempelajari manusia yang dikejar oleh waktu. Jika lebih dikhususkan, objek penelitian sejarah memang manusia. Akan tetapi waktu sangat berperan penting dalam proses pembelajaran sejarah. Kebanyakan sejarawan bingung bagaimana menentukan waktu pas terjadinya sejarah tersebut. Kebanyakan ilmuwan hanya mengira-ngira waktu terdekat sejarah itu terjadi. Karena informasi yang mereka dapatkan sangat minim dan peristiwa tersebut tidak bisa terulang kembali. 

Sejarah Memiliki Teori 
Seiring dengan munculnya banyak filsafat sejarah di muka bumi. Tentu saja, hal ini juga memicu munculnya teori-teori tentang sejarah.teori yang terdapat dalam sejarah ini berbeda-beda antara negara yang satu dengan yang lain, contohnya saja di Amerika yang beroriantasi pragmatis sedangkan di Belanda mempunyai tradisi kontinental yang lebih kontemplatif. Ini semua sesuai dengan yang diungkapkan oleh Kuntowijoyo (2013:48) “di universitas-universitas Amerika yang berorientasi pragmatis, tidak diajarkan teori sejarah yang bersifat filosof. Sebaliknya, di negara Belanda mempunyai tradisi kontinental yang lebih kontemplatif, teori sejarah yang bersifat filosof yang diajarkan”. 

Sejarah Mempunyai Generalisasi 
Generalisasi sejarah memiliki arti seperti yang diungkapkan Kuntowijoyo dalam bukunya pengantar ilmu sejarah. Kuntowijoyo (2013:48) 

Generalisasi, dari bahasa latin “generalis” yang berarti umum. Sama dengan ilmu lain sejarah juga menarik kesimpulan-kesimpulan umum. Hanya saja perlu diingat kalau ilmu-ilmu lain bersifat nomotetis, sejarah itu pada dasarnya bersifat ideografis. Kalau sosiologi membicarakan masyarakat di pojok jalan atau antropologi membicarakan pluralisme amerika, mereka dituntut untuk menarik kesimpulan-kesimpulan umum yang berlaku dimana-mana dan dapat dianggap sebagai kebenaran umum. 

Generalisasi dalam hal sejarah disini mempunyai arti koreksi dari kesimpulan ilmu pengetahuan lain yang kurang akurat. Banyak kejadian atau ilmu yang belum mempunyai jawaban pasti, akan tetapi setelah menyangkut pautkan dengan sejarah akhirnya ditemukan jawaban yang pasti. 

Sejarah Mempunyai Metode 
Dalam perkembangannya ternnyata sejarah memiliki metode yang digunakan dalam penelitian-penelitian, seperti yang dipaparkan oleh Bailey(dalam Hamid&Majid, 2011:41). “...Teknik penelitian atau alat yang dipergunakan untuk mengumpulakan data, sedangkan metodologi adalah falsafah tentang proses penelitaian yang di dalamnya mencakup asumsi-asumsi, nilai-nilai, standar atau kriteria yang digunakan utuk menafsirkan data dan mencari kesimpulan”. Jadi dengan adanya metode yang digunakan dalam sejarah inilah akan mempermudah sejarawan untuk mengumpulkan data dari suatu kejadian 

B. FUNGSI SEJARAH SEBAGAI ILMU
Menurut Ismaun mengatakan bahwa fungsi sejarah sebagai ilmu pada umumnya dapat dibedakan:

a. Fungsi Ilmiah (teoretis), ialah sama dengan fungsi ilmu pada umumnya. Menurut Betrand Russel ada dua fungsi, yaitu:
  • Untuk memungkinkan kita mengetahui atau mengerti sesuatu.
  • Memungkinkan kita untuk melakukan sesuatu.
b. Fungsi Praktis, yakni dari ilmu sejarah diperoleh kegunaan praktis (practical value). Fungsi praktis pengajaran sejarah dapat diartikan secara positif, tetapi juga dapat diartikan secara negatif. Fungsi sejarah pada hakikatnya untuk meningkatkan pengertian dan pemahaman yang mendalam dan lebih baik tentang masa lampau, untuk dapat memahami masa sekarang serta dalam prospektif masa yang akan datang.

Dalam pembelajaran di sekolah, fungsi sejarah adalah untuk memperkenalkan peserta didik kepada pengalaman kolektif dan masa lalu bangsanya. Tanpa sejarah kita tidak mempunyai pengetahuan mengenai siapa kita ini dan bagaimana kita menjadi seperti sekarang ini. Adalah peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam sejarah yang membuat kita tahu apa yang telah dipikirkan, dirasakan, atau diperbuat oleh manusia. Pada gilirannya, orang-orang sesudah kita tidak akan mengetahui keberadaan kita sekarang ini, jika kita tidak meninggalkan catatan-catatan mengenai kehadiran diri kita.

Kajian sejarah itu penting bukan hanya karena sejarah menceritakan kepada kita tentang diri kita sebagai manusia di dunia, tetapi juga nilainya (value) dalam mengembangkan kemampuan kita berpikir dan melakukan inkuiri. Berdasarkan hal tersebut, mempelajari sejarah mampu mengabadikan pengalaman masyarakat masa lampau yang dapat menjadi bahan pertimbangan bagi masyarakat dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.

Sejarah Perang Khandaq (Ahzab)

Sejarah Perang Khandaq (Ahzab)

Sejarah Perang Khandaq (Ahzab) - Perang Khandaq terjadi pada bulan Syawal tahun kelima Hijriyah. Perang Khandaq juga disebut perang Ahzab, perang Parit. Dalam Al-qur’an digambarkan perang khandaq sebagai berikut : 

øŒÎ) Nä.râä!$y_ `ÏiB öNä3Ï%öqsù ô`ÏBur Ÿ@xÿó™r& öNä3ZÏB øŒÎ)ur ÏMxî#y— ㍻|Áö/F{$# ÏMtón=t/ur ÛUqè=à)ø9$# tÅ_$oYysø9$# tbq‘ZÝàs?ur «!$$Î/ O$tRqãZ—à9$# ÇÊÉÈ y7Ï9$uZèd u’Í?çGö/$# šcqãZÏB÷sßJø9$# (#qä9Ì“ø9ã—ur Zw#t“ø9Η #Y‰ƒÏ‰x© ÇÊÊÈ 

Artinya : “Ketika mereka datang kepada kamu dari atas dan dari bawah, dan ketika pemandangan telah suram, dan hati telah naik sampai kerongkongan. Dan ketika itu kamu berprasangka kepada Allah dengan prasangka yang salah”. Di kala itu orang-orang yang beriman mendapat ujian dan perasaan mereka digoncangkan dengan goncangan yang hebat”. 

Sejarah Perang Khandaq (Ahzab)
Sejarah Perang Khandaq (Ahzab)


Pada perang Khandaq umat Islam sedang dikepung oleh tentara sekutu. Komandonya adalah kaum Yahudi. Kaum Yahudi dipimpin dari Bani Nazir dan sekelompok Bani Wa’il. Kronologi awal terjadinya perang Khandaq adalah pengusiran kaum Yahudi dari Bani Nazir secara paksa dari kota Madinah oleh kaum Muslim. Kaum Bani Nazir tinggal dipemukiman Khaibar, kemudian kaum Yahudi menyusun rencana menghancurkan fondasi Islam. Untuk melaksanakan rencana kotor itu, para pemuka suku Bani Nazir seperti Salam bin Abi Al-haqiq dan Hay bin Akhtab datang ke Mekkah. Tujuan kaum Yahudi untuk membentuk pasukan sekutu. 

Kaum Yahudi datang ke Mekkah untuk menemui suku-suku yang pernah dikalahkan umat Muslim. Berbagai macam cara kaum Yahudi meyakinkan kaum kafir Quraisy tentang niat bersekutu dengan kaum Yahudi. Perkataan kaum Yahudi kepada kaum kafir Quraisy “Agama berhala lebih baik daripada agama Muhammad. Anda harus bersikeras pada agama anda dan tidak boleh menunjukkan sedikit pun kecenderungan kepada agamanya”.[1] Pernyataan kaum Yahudi sangat berbeda dengan apa yang ia anut. Kaum Yahudi menganut ajaran monoteisme yakni ajaran mengeesakan Tuhan. 

Konsekuensi tauhid menjadi taruhannya untuk membujuk kaum kafir Quraisy agar mau bergabung. Setelah terjadi kesepakatan antar kaum kafir Quraisy dan kaum Yahudi. Kaum Quraisy mengumpulkan prajurit sebanyak empat ribu prajurit. Terkumpulah sepuluh ribu prajurit yang dibentuk oleh hasutan kaum Yahudi dan kaum kafir Quraisy. Sepuluh ribu prajurit dari Bani Quraisy, Bani As’ad, Bani Salim, Bani Fazarah, Bani Asyja’dan Bani Murrah. Panglima perang dari kubu sekutu adalah Abu Sofyan. 

Kabar pembuatan pasukan sekutu telah didengar oleh inteljen kaum Muslim. Inteljen Muslim melaporkan kepada Rasulullah saw bahwa kaum Yahudi telah membentuk sekutu untuk menyerang kaum Muslim di Madinah. Pasukan sekutu telah mengumpulkan suku-suku yang kalah melawan kaum Muslim. Dan pasukan sekutu telah menyusun prajurit sebanyak sepuluh ribu prajurit siap perang melawan umat Muslim. 

Rasulullah saw mengadakan rapat bersama sahabat. Sebagai langkah awal, Rasulullah saw menghimpun kekuatan pasukan muslim yang telah ada. Sahabat kemudian menghitung sejumlah tiga ribu prajurit yang siap mengikuti perang. Rasulullah saw membuka usulan beberapa sahabat. Kemudian sahabat Salman al-Farisi mempunyai usulan : “Ya Rasulullah, dulu ketika kami di Persia jika takut akan serbuan tentara kuda maka kami menggali parit”[2]. 

Salman al-Farisi merupakan sahabat Nabi yang baru masuk Islam. Salman merupakan orang Persia ( Iran sekarang). Pasukan Iran memang cerdik dalam strategi peperangan. Setelah mendengar pendapat Salman al-Farisi, Rasulullah menerima dengan baik pendapat itu. Untuk mempercepat proses pembuatan parit Rasulullah menginstruksikan kepada kaum Muslim setiap sepuluh orang menggali empat puluh hasta. 

Kota Madinah dikelilingi oleh gunung-gunung dan terdapat satu jalur yang bisa dilalui oleh manusia. Jalur inilah yang dibuat parit untuk menyulitkan tentara sekutu. Di dalam kota Madinah terdapat kaum Yahudi dari Bani Quraiza telah terjadi perjanjian persahabatan dengan kaum Muslim. Utusan dari tentara sekutu Huyay bin Akhtab membujuk kaum Yahudi Bani Quraiza agar melanggar perjanjian dengan kaum Muslim. Bujukan dari Huyay Akhtab telah diikuti oleh kaum Yahudi dari Bani Quraiza. Tentara sekutu kian bertambah dari dalam kota Madinah dan di luar kota Madinah. 

Rasulullah saw sempat akan melakukan genjatan senjata perdamaian karena pengepungan tentara sekutu. Namun, Rasulullah saw melihat kerja keras kaum Muslim dalam peperangan ini. Dalam hal ini, Saad bin Muaz angkat bicara : “Ya Rasulullah, dulu ketika kami dan mereka masih dalam keadaan menyekutukan Allah dan menyembah berhala dan tidak menyembah Allah maupun mengingat-Nya, mereka tidak pernah menerima kurma dari kami selain hutang ataupun dibeli. Apakah kini setelah Allah memuliakan kami dengan Islam dan memberi petunjuk kami kepada Islam serta kami bangga dengan engkau dan Allah, akan kami berikan harta kami kepada mereka? Demi Allah kami tak perlu berdamai. Demi Allah kami tidak akan rela memberikan kepada mereka sesuatu selain pedang sampai Allah memutuskan sesuatu antara kami dan mereka”.[3] 

Rasulullah saw mendengar pernyataan Saad bin Muadz, Rasulullah saw menyusun cara lain untuk memenangkan peperangan ini. Kemudian Rasulullah mengutus Nu’aim bin Mas’ud untuk masuk ke barisan tentara sekutu. Nu’aim mempropaganda tentara sekutu guna memecah belah kekuatan musuh. Pasukan sekutu memliki tujuan yang berbeda dalam peperangan ini. Nu’aim memanfaatkan tujuan yang berbeda ini dengan memberi berita keraguan antar suku. 

Nu’aim datang ke Bani Quraiza memberitahukan tentang keihklasan kaum Yahudi Bani Nadzir dan kafir Quraisy dalam peperangan bersama mereka ( kaum Bani Quraiza). Strategi yang dilakukan Rasulullah saw terbukti efektif dan baik. Ketika Abu Sufyan hendak memulai penyerangan kaum Yahudi merasa enggan melakukannya. 

Kaum Yahudi sudah terpengaruh oleh Nu’aim mengenai sikap Quraisy kepada mereka. Sehingga, pasukan sekutu tidak bersatu dan pecah belah. Penyerangan terhadap kaum Muslim tetap dilakukan. Pasukan sekutu tiba di Madinah, dan melihat parit yang amat panjang dan dalam. Pasukan sekutu berkata “Muhammad telah mempelajari siasat perang ini dari orang Iran, karena orang Arab tidak mengenal peperangan model ini”.[4] 

Pasukan sekutu mengalami kebingungan dengan apa yang harus mereka lakukan. Kemudian, pasukan sekutu mengirimkan lima pasukan gagahnya yakni ‘Amar bin Abdiwad, ‘Ikrimah bin Abu Jahal, Hubairah bin Wahab, dan Abdullah bin Dhirar bin Khaththab. Dari kelima jagoan ini ‘Amar yang paling berani. ‘Amar menantang kaum Muslim “siapa yang berani melawanku” kata ‘Amar. Pasukan Muslim terdiam mendengar suara ‘Amar yang lantang dan penuh kesombongan. Diamnya pasukan muslim membuat ‘Amar semakin berani melontar kalimat tantangannya “Di mana orang yang menuntut Surga? Bukankah kamu, kaum Muslim mengatakan bahwa orang yang terbunuh diantara kamu akan masuk surga. Sedangkan, orang yang terbunuh diantara kami akan masuk Neraka? Apakah diantara kamu tidak ingin mengirim aku ke Neraka atau masuk Surga di tanganku?”. Kalimat demi kalimat ‘Amar lontarkan munculah ‘Ali bin Abi Thalib sebagai lawan duelnya. 

Rasulullah saw mengetahui bahwa ‘Ali bin Abi Thalib masih muda melawan ‘Amar yang sudah berpengalaman duel. Namun, Rasulullah saw yakin akan kemampuan ‘Ali dapat menaklukan ‘Amar. Ketika ‘Amar mengetahui ‘Ali bin Abi Thalib sebagai penantangya 'Amar berkata “Wahai keponakanku, bapakmu Abi Thalib sangat baik denganku, aku tidak mau menebas pedangku ke arah keponakanku. Wahai keponakanku, kamu telah disihir oleh Muhammad agar mau melawanku”. Tatkala mendengar kalimat ‘Amar , ‘Ali menjawab “Wahai ‘Amar, marilah engkau ikut menyembah Allah, sesungguhnya apa yang kau sembah adalah sesat dan merugikan bagimu, wahai ‘Amar engkau janganlah memusingkan kematianku, saat ini engkau bertarung melawanku aku terbunuh apa engkau yang terbunuh”. 

Semangat ‘Ali memang tidak pernah menyerah, dorongan iman yang menjadi motivasi ‘Ali dalam peperangan ini. Kemudian mereka berduel ditengah pasir yang menimbulkan debu yang bertebaran, sehingga menutupi pertarungan antar keduanya. Sampai beberapa waktu berkumandanglah suara takbir dalam debu “Allahu Akbar, Allahu Akbar” pasukan muslim mendengar suara ‘Ali yang telah menumpaskan ‘Amar yang penuh kesombongan. Pasukan sekutu mengetahui akan kekuatan ‘Ali, mereka mundur dan takut untuk mengajak duel ‘Ali. Selang beberapa lama, Allah swt mengirimkan angin dan debu yang begitu kencang menerpa pasukan sekutu. 

Angin tersebut memporak porandakan tenda-tenda pasukan sekutu. Ketika angin datang wilayah Madinah sedang musim dingin, sehingga mustahil angin datang ketika musim dingin. Kejadian angin ini sangat mirip tentang jatuhnya crane yang ada di Masjidil Haram, mustahil angin datang ketika musim dingin. Proyek perluasan masjidil haram dilakukan oleh Laden Group bekerja sama dengan perusahaan kontraktor BUMN Indonesia yakni Waskita. 

Peran Manajemen Dakwah dalam Perang Khandaq 

Manajemen berasal dari kata “to manage” dalam bahasa Inggrisnya artinya: mengemudikan, mengelola, membimbing, mengatur, dan mendorong.[5] Dalam istilah manajemen mempunyai perbedaan istilah. Namun, manajemen merupakan cara melakukan sesuatu tujuan dengan kemampuan-kemampuan yang ada. Manajemen juga mempunyai dua unsur: yakni subyek/pelaku dan obyek/tindakan. Subyek pelaku manajemen tidak lain adalah manajer itu sendiri. Sedangkan, obyek tindakan manajemen terdiri atas organisasi, SDM, dan obyek lainnya. 

Dalam perang khandaq subyek pelaku adalah Nabi Muhammad saw. Kepemimpinan Nabi Muhammad telah memberikan dampak positif bagi prajuritnya. Rasulullah saw selain sebagai Nabi juga sebagai panglima perang, motivator, dan panutan teladan bagi umatnya. Tatkala perang khandaq Rasulullah saw menjalankan system syura /musyawarah ketika proses awal pembuatan parit. 

Pada pembuatan parit ini terdapat inovasi strategi perang yang diberikan kaum Muslim. Inovasi diperlukan dalam proses manajemen. Di dalam inovasi terdapat kekreatifan seseoarang untuk mengembangkan strategi pemikirannya. Selain itu, inovasi dapat memperpanjang umur/life cycle di suatu organisasi. Menurut pakar di bidang inovasi beranggapan bahwa perilaku inovatif terdiri atas dua tahapan, yakni pemunculan gagasan dan tahapan implementasi gagasan[6]. Pada perang Khandaq ini pemunculan gagasan inovasi dari Salman Alfarisi. Pada proses pemunculan gagasan pemimpin meminta pendapat dari karyawan, anak buah, dan struktur dibawahnya. Kemudian pemimpin memilih gagasan yang terbaik dari setiap pendapat yang masuk. Setelah pendapat Salman diterima, Rasulullah saw melakukan implementasi gagasan. Implementasi merupakan tindakan secara nyata dari gagasan yang telah diterima. 

Proses penggalian parit Rasulullah saw tidak hanya memerintah umatnya. Namun, Rasulullah saw ikut dalam penggalian parit. Karena itulah kaum Muslimin beramai-ramai ikut bekerja bersama Nabi Muhammad saw. Rasulullah saw mengajarkan umatnya tentang tim kerja ( team work ). Tim kerja adalah kelompok pekerja yang bertanggung jawab atas pembentukan, penanganan suatu proses dalam organisasi.[7] Semangat tim kerja ini diperlihatkan kaum Muslim ketika sedang mengalami kelaparan. Ketika itu umat Muslim sedang mengalami kelaparan, karena kerja yang begitu keras. Kemudian Rasulullah saw meminta salah seorang sahabat untuk mengambil segenggam gandum dan sepotong daging kambing. Rasulullah saw memasukan gandum dan sepotong daging kambing ke dalam kuali. Rasulullah saw berdoa kepada Allah swt agar satu kuali dapat mencukupi prajurit sebanyak 3000. Allah swt menunjukan Mukjizat-Nya yaitu prajurit 3000 mendapatkan porsi makanan semua, bahkan makanan yang didalam kuali masih tersisa. 

Di sisi lain, pasukan sekutu sedang sibuk psy war Nuáim. Pasukan sekutu sedang diliputi rasa kecemasan antar suku. Timbul saling tidak percaya satu sama lain, dan pembentukan tim kerja tidak terjadi. Pentingnya seorang pemimpin dalam sebuah organisasi. Pemimpin tidak hanya memerintah bawahannya,namun pemimpinlah yang menyelaraskan bawahannya. Melalui kekuasaan seorang pemimpin, suatu organisasi dapat dikendalikan dengan baik. 

Umat Muslim dalam perang Khandaq merupakan suatu organisasi. Setiap organisasi memiliki target dan beberapa tolak ukur. Target hasil profit dan non profit, pertumbuhan, dan keberkahan. Target hasil profit dalam perang Khandaq adalah harta rampasan perang (ghanimah), budak, dan tawanan. Profit yang didapatkan bukan untuk Rasulullah saw sendiri melainkan untuk umat Islam. Rasulullah saw sangat bijak dalam penebusan tawanan. Ketika ‘Amar terbunuh oleh Áli bin Abi Thalib, Keluarga Ámar berniat menebus mayatnya Ámar dengan sejumlah uang. Namun, Rasulullah saw menolaknya Rasulullah saw menjawab “silahkan ambil mayat Amar, Islam tidak bisa menerima tebusan mayat”. 

Target hasil non-profit berorientasi kepada nilai-nilainya. Orientasi tersebut terbagi menjadi tiga, yakni qimah insniyah ( nilai kemanusiaan ), qimah khuluqiyah ( nilai akhlak ), dan qimah ruhiyah ( nilai ruhiyah )[8]. Dalam contoh di atas Rasulullah saw mengajarkan orientasi ketiganya. Qimah insaniyah Rasulullah saw tidak merelakan umat Islam menerima tebusan dari sebuah mayat kafir. Qimah khuluqiyah Rasulullah saw menjaga kehormatan umat Muslim atas penebusan mayat Ámar. Qimah ruhiyah Rasulullah saw membuktikan Islam solid dengan kekuatan tim kerja dan ridho Allah swt. Áisyah r.a. berkata : “Rasulullah saw bukanlah orang yang keji, beliau tidak membiarkan kekejian, tiada mengeluarkan suara keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Beliau memaafkan dan berjabat tangan”.[9] Rasulullah saw sangat menjaga kehormatan umat Islam, mencotohkan budi pekerti yang baik. Dalam surat Al-ahzab ayat 21 : 

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ’Îû ÉAqß™u‘ «!$# îouqó™é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ötƒ ©!$# tPöqu‹ø9$#ur tÅzFy$# tx.sŒur ©!$# #ZŽÏVx. ÇËÊÈ 

21. Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. 

Rasulullah saw adalah seseorang yang kuat imannya, berani, sabar, dan tabah menghadapi segala macam cobaan, percaya sepenuhnya kepada segala ketentuan Allah, dan mempunyai akhlak yang mulia. Jika manusia bercita-cita menjadi orang yang mulia dunia dan akhirat, ikuti perbuatan Nabi Muhammad saw. 

Orientasi kedua yaitu pertumbuhan. Jika profit materi dan non materi telah diraih sesuai target, maka sebuah organisasi akan mengupayakan pertumbuhan secara konsisten. Peperangan demi peperangan dilakukan dengan mudah dan pertumbuhan Islam semakin solid pada materi dan non-materi. 

Orientasi ketiga yaitu keberkahan. Faktor keberkahan atau orientasi untuk menggapai ridla Allah swt merupakan puncak kebahagiaan Muslimin. Fakor ketiga ini merupakan kekuatan Islam. Kesetiaan umat Muslim terlihat ketika pembuatan parit, beberapa umat Rasulullah yang khawatir akan keberlangsungan hidup keluarganya. Sebagai umat Muslim visi dari kehidupan terdapat dalam surat Adz-dzaariyaat ayat 56 : 

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ 

56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. 



Ayat di atas menerangkan hakikat tujuan hidup manusia yakni ibadah. Ibadah merupakan tujuan dari penciptaan manusia dan kesempurnaan yang kembali kepada penciptaan itu yakni Allah SWT. Bentuk visi ini yang menjadikan motivasi bekerja penggalian parit dalam perang khandaq. Niat yang mulia bekerja bersama Rasulullah saw adalah suatu kemuliaan yang tiada pernah dilakukan seumur hidup. Ibadah peperangan merupakan ibadah ghairu ma’dah. Ibadah ghairu madah adalah segala aktivitas lahir dan batin manusia yang dimaksudkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. [10] Segala bentuk aktivitas kegiatan di arahkan pengabdian kepada Allah SWT semata. 

Manajemen memiliki tujuan dan mengarahkan ke tujuan organisasi itu sendiri. Manajemen pula merupakan tool/alat seorang manajer/pemimpin untuk mengeksploitasi pemikiran dan inovasinya. Lewat kepandaian serta kekreatifan manajer, manajemen berlangsung terus berkembang. Rasulullah saw sebagai manajer mengarahkan umat Muslim ke hakikat hidup manusia yakni beribadah kepada Allah swt. 

Kata dakwah ditinjau dari segi bahasa berartikan: panggilan, seruan, ajakan. Seringkali, kata dakwah diidentikkan dengan mimbar masjid. Dakwah tidak hanya tersimbol ritual dan ceramah. Dakwah-dakwah yang tersimbolkan merupakan sebuah metode penyampaian yang berbeda satu sama lain. Definisi dakwah menurut Syaikh Muhammad Abduh: “dakwah adalah menyeru kepada kebaikkan dan mencegah diri kemungkaran diwajibkan kepada setiap Muslim”. Syaikh Abdullah Baálawi mengartikan dakwah adalah mengajak membimbing, dan memipin orang yang belum mengerti atau sesat jalannya dari agama yang benar untuk dialihkan ke jalan ketaatan kepada Allah, menyuruh mereka berbuat baik dan melarang mereka berbuat buruk agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.[11] Kegiatan dakwah merupakan kegiatan moral yang mengisikan tentang pencegahan kemungkaran. Pencegahan kemungkaran tidak hanya dilakukan ceramah saja. Pencegahan kemungkaran diwajibkan kepada seluruh umat manusia terutama umat Muslim. Pada surat Ali-Imron ayat 110 : 

öNçGZä. uŽöyz >p¨Bé& ôMy_̍÷zé& Ĩ$¨Y=Ï9 tbrâßDù's? Å$rã÷èyJø9$$Î/ šcöqyg÷Ys?ur Ç`tã ̍x6ZßJø9$# tbqãZÏB÷sè?ur «!$$Î/ 3 öqs9ur šÆtB#uä ã@÷dr& É=»tGÅ6ø9$# tb%s3s9 #ZŽöyz Nßg©9 4 ãNßg÷ZÏiB šcqãYÏB÷sßJø9$# ãNèdçŽsYò2r&ur tbqà)Å¡»xÿø9$# ÇÊÊÉÈ 

110. kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. 

Ayat di atas menerangkan kedudukan manusia sebagai umat terbaik. Allah swt memberikan manusia sebagai predikat umat terbaik adalah suatu hal yang membanggakan. Predikat umat terbaik tidak hanya sebuah predikat saja melainkan didukung dengan tanggung jawab dan aksi terhadap predikat tersebut. Berdasarkan ayat di atas, predikat umat terbaik itu terkait erat dengan tiga hal : 1) ta’muruna bil ma’ruf ( selalu mengajak dalam kebaikan ),2) tanhauna ánil mungkar ( mencegah kemungkaran ), dan 3) tu’minuna billah ( beriman kepada Allah )[12]. Ketiga konteks ini dapat mewujudkan peran-peran umat muslim sebagai pencegah kemungkaran. 

Setiap umat Muslim tidak boleh melakukan suatu pembiaran kemungkaran walaupun dalam skala kecil. Pembiaran akan berakibat fatal terhadap berlangsungnya kehidupan manusia yang lebih baik, karena dengan melakukan pembiaran kemungkaran berarti telah melakukan pembiasaan kemungkaran. Umat Muslim juga dapat melakukan peran-peran tersebut dalam sebuah wadah persatuan. Namun, gerakan dakwah yang paling utama adalah disetiap individu umat Islam. 

Setiap individu umat Islam menimbulkan simbiosis mutualisme/kegiatan yang saling menguntungkan. Pribadi Islam tidak diperkenankan merugikan orang lain, apalagi sampai merugikan umat Islam. Di Indonesia yang bermayoritaskan beragama Islam dapat menjadi Negara yang makmur melalui agent of changes pada umat Islam. Islam mengajarkan nilai-nilai moral yang tidak pernah merugikan orang lain. Pribadi Islam adalah pribadi yang santun, saling menghargai, dan tidak pernah memaksa. Munculnya gerakan dakwah dapat membantu menjadikan Indonesia sebagai Negara makmur. Gerakan dakwah ini sangat membantu pencegahan kemungkaran-kemungkaran di Negeri ini. Gerakan dakwah dapat memotivasi umat Islam tidak berhenti berjuang di jalan Allah tanpa harus membentuk Negara Islam Indonesia. 

Gerakan – gerakan dakwah yang dilakukan sahabat Khandaq memberikan semangat dakwah yang tinggi. Dari Aisyah pernah bercerita bahwa ada seorang Ibu dari Saad bin Muadz berkata : “Wahai putraku, bersegeralah kamu keluar ke medan perang karena kamu sangat terlambat[13]”. Dari kalimat seorang ibu ini memberikan pesan kepada orangtua agar senantiasa mengajak keluar anaknya dari rumah, bersegera melakukan jihad seperti: melakukan ibadah, mencari ilmu, dan berbuat baik. 

Saad bin Muadz meninggal dunia terkena anak panah. Dan menjadikan Saad bin Muadz sebagai syahid. Di era globalisasi ini sungguh umat Muslim kurang yakin dengan keilmuwan Islam. Sebagian umat Muslim masih menganggap ilmu Islam sebagai suatu ritual ibadah semata. Cendekiawan Muslim diharapkan semakin banyak, dan berkembang. Para cendekiawan mempraktekkan keilmuwan terhadap lingkungan dan masyrakat sekitar. Umat Muslim diharapkan tidak takut mempelajari keilmuwan Islam, keilmuwan Islam apabila dipelajari dan diamalkan akan membuahkan ketaqwaan yang kuat. Seperti yang tercermin pada surat Atholaq ayat 2-3: 

#sŒÎ*sù z`øón=t/ £`ßgn=y_r& £`èdqä3Å¡øBr'sù >$rã÷èyJÎ/ ÷rr& £`èdqè%Í‘$sù 7$rã÷èyJÎ/ (#r߉Íkô­r&ur ô“ursŒ 5Aô‰tã óOä3ZÏiB (#qßJŠÏ%r&ur noy‰»yg¤±9$# ¬! 4 öNà6Ï9ºsŒ àátãqム¾ÏmÎ/ `tB tb%x. ÚÆÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 `tBur È,­Gtƒ ©!$# @yèøgs† ¼ã&©! %[`tøƒxC ÇËÈ çmø%ã—ötƒur ô`ÏB ß]ø‹ym Ÿw Ü=Å¡tFøts† 4 `tBur ö@©.uqtGtƒ ’n?tã «!$# uqßgsù ÿ¼çmç7ó¡ym 4 ¨bÎ) ©!$# à÷Î=»t/ ¾Ín̍øBr& 4 ô‰s% Ÿ@yèy_ ª!$# Èe@ä3Ï9 &äóÓx« #Y‘ô‰s% ÇÌÈ 

(2). apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.(3). dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. 



Allah SWT mengingatkan cendekiawan muda Muslim melalui ayat ini. Ayat ini jelas menerangkan Allah SWT akan memberikan jalan keluar bagi hamba-Nya yang bertaqwa. Ketakutan-ketakutan cendekiawan Muslim tidak akan bisa hidup apabila hanya mempelajari ilmu Islam tidak terjadi lagi. Seorang cendekia muslim mempelajari Ilmu Islam akan menumbuhkan sikap ketaqwaan. 

Dalam perang Khadaq, pasukan sekutu sesungguhnya melawan pasukan Allah swt. Dalam hal ini, pasukan Muslim tidak mengalami kerugian akibat perang Khandaq. Hal ini membuktikan bahwa Allah swt melindungi hamba-Nya yang berjuang di jalan-Nya. Perjuangan perang Khandaq mengindikasikan tentang kekuatan iman pasukan Muslim yang tidak pernah surut. Sesuai dengan surat Atholaq ayat 2-3 terbukti bahwa apabila seorang Muslim berjalan dalam ketaqwaan Allah swt memberi jalan kemudahan. 

Implemaentasi semangat peperangan harusnya diikuti oleh semangat belajar kaum muda Muslim. Kaum muda Muslim adalah asset yang sangat berhaga demi berkembangnya pengetahuan Islam. Integrasi keilmuwan menjadi salah satu cara untuk menguatkan ilmu pengetahuan dari umum maupun agama. 

Tentang kejadian jatuhnya crane mendapatkan teguran umat Islam. Menurut KH. Ali Musthofa Ya’qub ( Imam besar masjid istiqlal ) mengatakan “Perbandingan kouta jamaah haji dari 1000 penduduk muslim diperbolehkan 1 yang diberangkatkan haji dirubah, perbandingannya seharusnya 5000 dibandingkan dengan 1. Permasalahan-permasalahan penyelenggaraan ibadah haji selalu sama yakni kouta yang tidak mencukupi. Selain itu, perlu diadakan fatwa internasional tentang haji lebih dari satu kali melalui putusan hokum haram. Jamaah haji yang sudah berhaji sebaiknya dialokasikan untuk dana social, ditakutkan niat haji bukan karena Allah swt melainkan karena nafsu belaka. Saya menyebutkan model jamaah haji ini bukan haji mabrur, namun haji pemuja setan”.[14] Siasat yang disampaikan KH. Ali Musthofa yakub sangat sesuai dengan fakta jamaah haji. Kemenag seharusnya menindak tegas bagi jamaah haji yang berhaji lebih dari satu kali. Fatwa ini seharusnya segera diterbitkan oleh MUI ,agar calon jamaah haji lebih terkontrol kuotanya. 

Kendati demikian, atas kejadian crane umat Islam lebih bersatu, dan tidak mudah difitnah. Islam sejatinya tidak mengajarkan untuk saling menguasai, namun Islam mengajarkan saling menghargai. Selain itu, Islam juga mengajarkan mengenai persatuan dan kesatuan yang menjadikan umat Islam yang kokoh. 

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia